Kehidupan

Hampir tiga tahun, dan lalu kita putus.

Satu hal yang selalu bikin aku takut setelah kita berantem dan mutusin buat putus adalah kondisi kamu. Mungkin ini aneh dan terlalu berlebihan, tapi aku selalu sedih kalo harus bayangin kamu nangis dan sendirian di kosan. Tapi hari ini beda, ga harus nunggu lama sampai akhirnya aku baca tulisan kamu dan ngerasa semua akan baik-baik aja. You will be ok.

We know that we care and love each other. But maybe, after all the things that we’ve been through, all the happy, sad, and weird moments, this was a good and right time to end up our special relationship. So sorry that i can’t fulfill all of your expectations. I hope and believe that you will find someone that really good for you.

Makasih banyak udah bikin aku jadi lebih kenal dengan diri aku sendiri. Dan terima kasih untuk selalu baik dan sabar sama aku.

Please, don’t waste your time to just scrolling Instagram feeds. Seriusin kuliahnya.
Do care with your health, kurang-kurangin begadang dan minum kopi instan-nya, minum air putih yang banyak.

Oh iya, aku selalu senang dan bangga setiap kali cerita ke orang lain tentang kamu yang “cuma” lulusan JIP tapi sekarang bisa jadi front-end developer di Sleekr. Terus belajar ya!

Kehidupan, Kuliner

What did you eat today?

One of my favorite activities is enjoying food. I really love Indonesian food.

This morning, as usual, I bought nasi kuning in a food truck near my office for my breakfast.

It costs only 9000 rupiah and it tasted so good. I enjoyed my nasi kuning with a fried tofu that had bean sprouts inside, a handful of sliced omelete, peanuts, and of course sambal to make it extra delicious.

Actually, I want to buy it every morning, but it really need an extra effort to get this nasi kuning since the food truck is only open until 8 am. So I need to wake up early and come to the office before 8 am to be able to enjoy this special nasi kuning.

Kehidupan

“The worst thing about a brain injury before the recovery is that no one depends on you for anything. No one’s going to ask you to remember anything, or ask for your help, or expect you to solve a problem. You feel like the world doesn’t need you. … 

“I needed to feel useful and to matter …

https://medium.com/freethink/how-to-rebuild-a-broken-brain-41b237ce16fb#.7wwcqzphk

Hal ini yang sering kali membuat gaji tinggi atau benefit lain yang diberikan perusahaan menjadi tidak lebih menarik ketimbang perasaan berguna dan berharga seorang karyawan atas apa yang dikerjakannya untuk perusahaan.

Kehidupan

Makan. Sendirian.

Eating alone is kind of sad, isn’t it? – Finsterworld. (2013)

Baru sadar lagi (sebelumnya udah pernah sadar) kalau selama lima tahun di kampus ini saya jauh lebih sering makan di kantin sendirian. Atau hampir selalu ya? Sedih amat.

Mungkin asik kalo ada app yang bisa menghubungkan orang-orang yang lagi sendirian dan mau makan. Ga harus cuma menghubungkan orang-orang yang ansos dan ga punya teman buat diajak makan sih, bisa juga menghubungkan orang-orang yang punya minat yang sama buat nyoba tempat makan baru atau tempat makan yang lagi ngadain promo tertentu, jadi bisa share cost gitu. Hemmm.

Hai, makan yuk.

Kehidupan

Eksistensialisme

Hari ini saya menonton film Dunia Sophie. Salah satu hal yang paling saya ingat dalam film tersebut adalah tentang Eksistensialisme. Eksistensialisme membahas kebebasan individu untuk menentukan pilihannya, tanpa perlu memikirkan itu benar atau salah (lagipula kebenaran bersifat relatif bukan?).

Human is condomned to be free, Manusia dikutuk untuk bebas, kata Jean-Paul Sartre. Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan mana yang akan ia ambil. Hal yang menarik adalah, sejauh mana kebebasan itu bebas? Jawabannya adalah sejauh jarak suatu individu dengan individu lain, karena pada akhirnya yang membatasi kebebasan suatu individu adalah kebebasan individu lain. Ketika anda hidup berdampingan dengan individu lain maka kebebasan anda menjadi lebih terbatas ketimbang ketika anda hidup sendiri, jauh dari orang lain (tidak harus jauh secara fisik).

Batasan-batasan tersebutlah yang pada akhirnya membuat setiap pilihan memiliki resiko dan konsekuensinya masing-masing. Yang perlu disadari, Eksistensialisme tidak hanya tentang kebebasan membuat atau memilih pilihan sesuai dengan keinginan sendiri, namun yang lebih penting adalah tentang mempertanggungjawabkan resiko dan konsekuensi dari pilihan yang sudah diambil.

Kehidupan, Uncategorized

Hidup itu bukan perkara memilih pilihan yang benar. Hidup itu perkara memahami pilihan yang ada dengan segala konsekuensinya, kemudian kita memilih pilihan yang ada itu dan siap untuk menerima segala konsekuensinya.

Kepikiran hal ini setelah sit in kuliah Paradigma Feminis di FIB. Kalo kata Nada sih, ini ala-ala Simone de Beauvoir.