Petualangan

Sukabumi

Hari Pertama:

Berangkat
Kemarin lusa tiba-tiba saya pergi ke Sukabumi. Perjalanan diawali dengan berlari menuju Stasiun UI karena kereta ke arah Bogor sebentar lagi tiba di Stasiun UI. Saat itu yang ada dipikiran saya adalah secepatnya tiba di Stasiun Bogor karena saya tidak tahu juga jadwal keberangkatan kereta ke Sukabumi jam berapa. Namun sesampainya di Bogor saya malah harus menunggu 1 jam lebih karena ternyata jadwal keberangkatannya adalah jam 13.40 sementara saya sudah tiba di Stasiun Bogor sekitar jam 12.15.

Perjalan Bogor-Sukabumi dengan menggunakan kereta memakan waktu kurang lebih 2,5 jam, lebih cepat ketimbang jika ditempuh menggunakan mobil atau bus melalui jalanan Bogor-Sukabumi yang seringkali macet karena perbaikan jalan, banyaknya pasar di sepanjang jalan, ataupun bubaran buruh pabrik. Perjalanan menjadi membosankan karena tidak ada teman, mba-mba di depan saya juga sibuk dengan handphonenya sehingga membuat saya segan untuk memulai perkenalan. Saya pun memutuskan untuk mendengarkan musik dari laptop sambil mengisi ulang baterai laptop saya.

Keliling Kota Sukabumi
Sesampainya di sana saya menunggu teman yang memang saya ingin temui. Namun ternyata hari itu dia sudah berjanji untuk bertemu temannya yang lain, akhirnya saya harus menunggu dulu. Saya pergi ke Masjid Agung, selain untuk shalat juga untuk survey karena rencananya malam itu saya akan tidur di sana. Dari Masjid Agung, saya berjalan mengelilingi pusat kota Sukabumi yang memang tidak terlalu besar. Di tengah jalan saya sempat membeli onde-onde mini kesukaan saya. Bosan berkeliling, saya pun berhenti dan memilih menunggu teman saya di KFC.

Saya bertemu teman saya selepas shalat Isya di Masjid Agung. Perjalanan dilanjutkan dengan mencari tempat yang enak dan buka hingga larut supaya bisa mengobrol lebih lama. Kami memutuskan untuk pergi ke Pusat Bubur Bunut, salah satu tempat makan favorit teman saya. Tempatnya enak, buburnya enak, dan tempatnya buka sampai jam 11 malam. Kami pun mulai bercerita, tentang hal-hal yang memang perlu diceritakan dan hal-hal lain yang tidak penting tapi seru untuk diperbincangkan. Saya dan teman saya ini sangat berbeda, pendapat kami seringkali bertentangan, tapi perbedaan itulah yang justru menjadi alasan kenapa ngobrol dengannya bisa menjadi lebih menyenangkan. Karena seringkali pendapat kami berbeda dan kondisi kami berdua yang sama-sama keras kepala, maka usaha saling menghargai pendapat menjadi sangat penting.

Sekitar jam setengah sepuluh malam, teteh-teteh yang jaga di tempat makan itu sudah mulai beres-beres, karena tidak enak, kami pun memutuskan untuk pulang (eh salah, teman saya pulang, saya pergi ke Masjid Agung). Karena masih ingin ngobrol tadinya saya mau mengajak teman saya ini pulang dengan jalan kaki, tapi sebelum hal itu saya sampaikan ternyata teman saya sudah mengajak saya melakukan hal itu. Akhirnya kami pun pulang dengan berjalan kaki, kami sengaja memilih jalan memutari kota supaya teman saya ini bisa menunjukkan sekolahnya dulu, juga agar waktu ngobrol kami bertambah. Saya menemani dia sampai ke depan gang rumahnya, setelah itu saya kembali ke pusat kota menggunakan angkot yang memang beroperasi 24 jam.

Tidur di Masjid Agung
Setibanya di pusat kota, saya masih harus berjalan lagi menuju Masjid Agung. Ketika sampai di Masjid Agung saya cukup kaget, ternyata sudah ada beberapa orang yang juga tidur di selasar masjid padahal awalnya saya kira saya akan tidur sendirian. Mungkin orang-orang ini sama seperti saya, tidur di masjid untuk mengejar kereta pertama ke Jakarta yang berangkat jam 5 pagi. Setelah mengamankan barang-barang berharga ke dalam tas, saya pun mulai mencari spot untuk tidur. Saya memilih tempat di pojokan dekat pintu masjid yang biasanya terbuka supaya saat menjelang waktu shalat subuh nanti akan ada yang membangunkan saya, yaitu penjaga masjid yang ingin membuka pintu masjid tersebut.

Baru beberapa menit terlelap, saya dibangunkan oleh suara telepon, ternyata teman saya menelpon untuk mengabarkan kalo dia juga akan kembali ke Jakarta besok dengan kereta jam 10.40, dia meminta saya untuk mengundurkan waktu keberangkatan saya supaya bisa bareng. Setelah mengiyakan, saya pun kembali melanjutkan tidur. Sejuknya lantai selasar masjid ini membuat saya bisa tidur dengan nyenyak, saya hanya sedikit menyesal kenapa tidak membawa sleeping bag, padahal pasti akan lebih nyaman tidur ditempat dingin dengan sleeping bag yang menghangatkan.

Hari kedua:

Keliling Kota Sukabumi Lagi
Keesokan harinya, seperti yang sudah saya prediksi, saya dibangunkan oleh penjaga masjid yang ingin membuka pintu. Agak bete juga sih karena saat itu masih sekitar 40 menit menjelang waktu Subuh, saya pun masih ngantuk. Menjelang azan subuh saya pun pergi untuk wudhu lalu masuk ke dalam masjid. Setelah shalat saya pergi ke selasar lagi untuk melanjutkan tidur, namun baru beberapa menit tidur saya sudah dibangunkan lagi oleh penjaga masjid. Kemudian saya bingung mau ngapain, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi pusat kota Sukabumi sambil mencari sarapan. Kota Sukabumi yang masih sejuk membuat kegiatan berjalan kaki menjadi aktivitas yang menyenangkan, tidak seperti berjalan kaki di Jakarta yang panas dan berdebu.

Saat itu sudah hampir pukul 6, sebagian besar toko-toko di sepanjang jalan masih tutup namun sudah banyak kendaraan yang berseliweran di jalan. Sepanjang jalan saya melihat petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan, beberapa tukang bubur dan penjual makanan sarapan lainnya, dan satu tukang cakwe yang sedang menyiapkan dagangannya. Di ujung jalan yang sepertinya membatasi pusat kota, saya mampir ke tukang bubur untuk sarapan. Kalo di Jakarta saya bisa menemui banyak variasi bubur, ada yang pakai bumbu kuning, kecap asin, dll, di sini saya hanya menemui satu jenis saja yaitu bubur dengan bumbu kecap asin. Satu lagi yang sepertinya khas adalah kroket isi bihun yang selalu disajikan berdampingan dengan bubur.

Olahraga di Lapang Merdeka
Setelah menghabiskan bubur, saya tetap duduk di sana sambil melihat-lihat jalanan yang ramai oleh bus tujuan Sukabumi-Bandung. Bosan juga lama-lama, tapi saya juga tidak tahu mau ke mana dan ngapain. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan lagi ke arah Masjid Agung namun dengan rute yang berbeda. Jalanan mulai ramai dengan anak-anak sekolah yang akan berangkat ke sekolah dan bapak-bapak polisi yang membantu anak-anak sekolah menyebrang jalan. Saya terus berjalan sampai akhirnya saya mendengar musik senam aerobik, saya jadi penasaran karena suara musiknya sangat keras sehingga bisa terdengar dari jarak yang jauh. Setelah saya cari ternyata suara musik senam itu berasal dari Lapang Merdeka, di sana sedang ada senam aerobik yang mayoritas pesertanya adalah ibu-ibu.

Setelah mengelilingi lapangan saya memilih untuk duduk di tribun yang berada di sekeliling lapangan. Saya duduk di dekat bapak-bapak tua yang berjualan air mineral dan minuman seduh seperti kopi, susu, dan lain-lain. Satu jam hanya saya habiskan dengan duduk sambil melihat orang-orang yang sedang jogging dan menertawakan satu bapak-bapak yang terlihat sangat semangat mengikuti gerakan senam aerobik, semangatnya melebihi ibu-ibu. Cuaca yang sejuk dan semilir angin membuat saya betah duduk di sana. Tapi lama-lama saya bosan juga hanya melihat orang yang berolahraga, karena kebetulan saya membawa celana pendek, kaos, dan sepatu olahraga akhirnya saya pun memutuskan untuk ikutan jogging!

Saya menitipkan tas saya ke bapak-bapak penjual minuman, sebelum memulai jogging saya menyempatkan diri untuk ngobrol dengan si bapak. Dari responnya ketika saya ajak ngobrol sangat terlihat kalo si bapak senang sekali mendapat teman ngobrol, mungkin karena sehari-hari dia berjualan dari pagi sampai sore sendirian, pasti bosan. Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan si bapak, saya pun pamit untuk memulai jogging. Lebih dari satu bulan tidak jogging membuat badan terasa berat dan nafas cepat sekali ngos-ngosan. Sekitar dua puluh menit kemudian saya pun memutuskan untuk menyudahi joggingnya, lumayanlah dapat beberapa belas putaran.

Ibu-Ibu dan Coklat Tutung
Saya kembali ke tribun, tadinya saya berniat mengajak ngobrol si bapak tapi si bapaknya sibuk menyeduh minuman untuk ibu-ibu yang baru selesai aerobik. Akhirnya saya hanya duduk sendiri mengamati kelakuan pengunjung Lapang Banteng pagi itu. Tribun tempat saya duduk yang tadinya sepi mulai ramai, ibu-ibu yang tadinya olahraga mulai mendatangi tribun untuk beristirahat sambil memesan minum. Selain orang-orang yang baru selesai berolahraga, ada juga rombongan lain, yaitu rombongan ibu-ibu dengan pakaian olahraga namun tetap dengan make up yang tebal, nah ibu-ibu ini biasanya datang ke Lapang Banteng hanya untuk mejeng dan bertemu teman-temannya untuk bergosip atau berjualan.

Sekitar saya pun makin ramai ketika ada ibu-ibu yang mengeluarkan celana olahraga yang ia jual. Suasana menjadi ramai karena banyak ibu-ibu yang riweuh menentukan ukuran celana yang pas untuknya dan menentukan warnanya. Lama-lama saya pusing juga dengan ocehan kumpulan ibu-ibu ini. Tapi dari obrolan ibu-ibu itu saya jadi salut dengan perempuan karena bisa membuat banyak klasifikasi warna. Selama ini saya cuma tau variasi warna adalah warna tua dan muda, contohnya ada coklat tua dan coklat muda, biru tua dan biru muda, atau paling banyak hanya variasi warna merah yaitu merah tua, merah muda, dan merah marun.

Berkat obrolan ibu-ibu itu saya jadi mendengar variasi warna yang baru, variasi warna yang diciptakan dari pengalaman sehari-hari macam hijau army (mengacu pada warna hijau pakaian tentara), coklat moka (mungkin mirip minuman kopi moka), hingga yang paling top adalah coklat tutung (tutung = gosong). Mendengar variasi warna yang terakhir itu membuat saya tertawa dan berusaha membayangkan proses pemberian istilah coklat tutung itu. Mungkin ketika melihat celana dengan warna itu, si ibu langsung teringat warna makanan yang gosong karena si ibunya keasikan nonton sinetron drama Turki yang lagi ngehits sampai lupa kalo dia sedang masak.

Pulang
Sekitar satu jam saya duduk sambil menunggu baju dan badan saya kering dari keringat, suasana yang sejuk dan angin sepoi-sepoi membuat badan saya tidak lengket meskipun baru selesai jogging. Setelah badan dan baju kering, dengan pedenya tanpa mandi atau pakai parfum, saya bersiap-siap untuk pergi menuju salah satu pusat perbelanjaan untuk bertemu dengan teman saya di sana. Sebelum pergi saya pamit ke bapak-bapak penjual minuman yang sudah mau menjaga tas saya selama saya jogging, sedih juga jadi tidak bisa ngobrol lebih banyak dengan bapak itu, mudah-mudahan lain waktu bisa datang lagi ke sana.

Saya bertemu dengan teman saya di pusat perbelanjaan yang telah ditentukan. Setelah menemani teman saya berbelanja, saya dan dia pergi ke stasiun dengan berjalan kaki karena letaknya yang tidak begitu jauh. Sampai di stasiun saya langsung antri untuk membeli tiket ekonomi seharga 20.000 rupiah, lebih murah ketimbang ongkos bus Sukabumi-Bogor. Saat mengantri saya sempat ngobrol sebentar dengan seorang ibu yang bercerita kalo ia pergi ke Bogor karena karena anaknya ingin mencoba naik kereta. Saya langsung ingat kelakuan saya yang selalu memaksa Papa saya untuk memilih naik kereta daripada bus setiap kali ingin berkunjung ke rumah nenek saya di daerah Cikini. Naik kereta memang menyenangkan!

Perjalanan pulang saya menjadi lebih menyenangkan karena saya tidak sendirian, ada teman saya yang bisa diajak ngobrol dan bercanda.

Dadah Sukabumi, terima kasih atas dua hari yang menyenangkan, sampai jumpa lagi!

Advertisements

2 thoughts on “Sukabumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s