Buku, Kehidupan

Balada Si Roy

Mesti selalu mabuk. Terang sudah, itulah 
masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan
beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu
serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah
kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi
dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi,
dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!

– Kahlil Gibran

– dalam Balada Si Roy 1: Joe – Bad Boys

Tau Balada Si Roy?

Novel (atau novelet ya?) berseri ini ditulis oleh Heri H Harris atau dikenal juga dengan nama Gola Gong. Bercerita tentang Roy, seorang anak laki-laki yang tinggal berdua bersama ibunya karena ayahnya meninggal saat melakukan pendakian gunung di Papua. Roy adalah seorang anak-anak laki-laki yang ari-arinya dibuang ke laut, dan menurut mitos, hal itulah yang membuatnya jadi sering keluyuran untuk berpetualang.

Awal perkenalan saya dengan BSR terjadi ketika SMA, waktu itu salah satu om saya mengirimkan satu dus buku-buku koleksinya (mungkin buku-buku koleksi ketika dia remaja). Dan salah satu buku yang ada dalam dus itu adalah BSR, yeay! Saya langsung jatuh cinta dengan buku ini sejak pertama kali saya membacanya. Salah satu hal yang paling saya suka dari buku ini (juga beberapa karya lain dari Gola Gong) adalah puisi atau petuah yang selalu ada di awal babnya, menjadi semacam pengantar bagi cerita di bab tersebut.

Cerita dari buku ini sebenarnya sederhana (dan mungkin bagi sebagian orang terkesan picisan), hanya kisah hidup anak laki-laki yang gelisah dengan berbagai hal, mulai dari wanita, teman, musuh, hingga obat-obatan terlarang. Si Roy yang gelisah antara memilih hidup “normal” menemani ibunya yang tinggal sendiri atau keinginannya untuk berpetualang menjelajah negeri. Namun, cerita sederhana dan picisan ini justru sangat berhasil membuat saya larut dalam ceritanya.

Setiap kali membaca buku ini, saya selalu ingin segera mengambil ransel dan celana jeans robek saya untuk lari pergi dari rumah dan berpetualang. Gara-gara buku ini juga saya mengajak teman saya untuk pergi kemping ke Lembang hanya dengan bermodal jempol untuk mencari tumpangan truk bak terbuka. Secara absurd tiba-tiba pergi naik KRL Ekonomi Bekasi-Bogor PP malam-malam tanpa tujuan yang jelas. Atau mengajak teman dekat saya jauh-jauh pergi ke Banten Lama hanya karena tempat itu jadi salah satu latar tempat di novel BSR.

Karena pengaruh yang cukup besar dari novel ini terhadap diri saya, saya jadi bertanya-tanya, “Kita adalah buku yang kita baca” atau “Buku yang kita baca adalah kita”? atau justru memang keduanya? Entahlah, yang pasti Balada Si Roy ini jadi salah satu buku favorit saya sampai sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s