Kehidupan, Kuliner, Petualangan

Jalan-jalan Rahasia

Diambil dari tumblr Nada


 

Besok ikut Satria, yuk.

Ke mana?

Ikut aja, rahasia.

—-

Jumat, 23 Mei 2014. Hari itu saya pergi tanpa mengetahui tempat yang dituju. Saya memulai perjalanan dari halte stasiun UI, menanti seseorang yang akan membawa saya ke tempat rahasia.

Jadi, kita mau ke mana?

Coba tebak.

Hm, ngga mau.

Ya udah, satria juga ngga mau jawab.

Ih, ke mana? Kalo ngga jawab nanti nada corat-coret, lho!

Nih, coret aja.

Maka saya membuat sebuah tanda di tangan penculik saya, supaya jika saya hilang, orang-orang bisa mencari penculiknya yang memiliki tanda berikut.

Saya buat tanda itu dengan menggunakan nail polish kuning, eye liner hijau dan lip stick pink, supaya penculiknya tetap terlihat cute hihi 😉

Kami berangkat dari Depok sekitar pukul 10.30 WIB. Karena saat itu adalah hari jumat, maka saya diminta untuk menunggu terlebih dahulu diMcDonald’s dekat Stasiun Cikini. Di sana, saya makan sebuah burger dan segelas cola. Sebelumnya, seingat saya, saya sudah makan bihun instan di kosan karena merasa kelaparan.

Beberapa waktu berlalu, akhirnya penculik saya kembali dari ibadah shalat jumatnya. Saya bilang, saya sudah makan banyak sekali sehingga tidak ingin makan Pempek Megaria. Ucapan itu saya lontarkan untuk menggagalkan rencana sok-sok rahasianya itu. Huh. Tapi pada akhirnya, kami berdua segera beranjak dari McD.

Kita mau ke mana sih?

Ke mana ya? Maunya ke mana?

Terserah, kan satria yang ngajak, gimana sih.

Makan pempek mau ga?

Mauuuuu!!!

Hmmm… di mana ya pempeknya? Di mana? Satria ngga tau nih, katanya kan di sini, kok ga ada ya?

Mana nada tau, nada kan ngga ngerti.

Yah, kalo gitu kita ke mana dong?

… tiba-tiba S berbelok ke area Metropole XXI.

Eh, ngapain ke sini?

Ngapain yaaaaa?

WAAAAAA!! Tempat pempeknya di sini ya? Horeee!!! Tapi ngapain masuknya lewat sana? Dari sini kan bisa! *seraya menoyor kepala satria hehe*

Karena saat itu jam makan siang, sekitar pukul 13.00, maka tempatnya sangat ramai sekali. Lalu, apa yang harus kami lakukan? Ya sudah lah, kami iseng-iseng saja masuk ke dalam XXI untuk melihat film apa yang sedang diputar. Tapi ternyata, tidak ada satu pun film yang menarik.

Mau makan Es Baltic?

Mauuuuuuu!!! (saya ditawari apa saja mau haha).

Es Baltic ini pertama kali saya ketahui dari teman saya, Aulia Rachmawati. Waktu itu ia cerita bahwa es baltic itu enak. Rupanya biasa aja sih, sama seperti es cup pada umumnya, tapi rasanya enak, bermacam-macam. Sedangkan satria mengetahui es ini dari papanya. Katanya, papanya pernah cerita tentang sebuah toko es di bilangan Senen, tapi papanya belum pernah mencoba es tersebut dan lupa apa tepatnya nama toko es krim yang dimaksud. Saya dan satria ingin pergi ke tempat ini sejak kami berada di Sulawesi. Mungkin, suatu saat saya akan menceritakaan kebersamaan kami di Sulawesi (haha penting banget emang ya, saya kan hobinya cerita-cerita gini, biar ngga lupa dan suatu hari bisa saya baca lagi).

Tempatnya yang mana sih? Jauh ga? Jangan-jangan tutup.

Hm… di mana ya? Aduh, satria lupa.

Wah, itu ya tempatnya? Asik sampe! Tempatnya sepi ya.

Dan kami pun memilih es krim sesuai keinginan kami masing-masing.

Satria: vanilla, nougat dan kopyor.
Nada: fruit mix, mocca dan peppermint.

Dari keenam varian rasa yang kami coba, saya sih paling suka fruit mix karena ada potongan-potongan ya entah buah betulan atau hanya buah sintetis, saya lupa, tapi yang jelas es krim tersebut jadi lebih nikmat karena terdapat tekstur di dalamnya. Oh ya, es krim cup ini memang terdiri dari dua jenis, yaitu cup spesial dan biasa. Untuk cup biasa dibanderol dengan harga 4.500 rupiah dan cup spesial seharga 5.000 rupiah. Perbedaan di antara dua jenis es krim ini yaitu untuk cup spesial terdapat tambahan-tambahan penyemarak seperti choco chips dan potongan buah tadi. Yum, rasanya enak-enak lho!

Setelah puas memakan es krim, kami pun kembali menuju Cikini untuk menyantap Pempek Megaria. Aaaaaaakkkkk! makan melulu hahahaha. Ketika tiba di Kawasan Megaria, ternyata pengunjungnya sudah tidak terlalu ramai, sehingga kami dapat memesan pempek yang sudah kami idam-idamkan sejak lama hihi.

Saya memesan pempek kapal selam dan kulit, sedangkan satria memesan kapal selam dan lenjer. Menurut saya pempeknya enak karena terdapat taburan ebi di atasnya. Harga satu buah kapal selam yaitu 15.000 rupiah, sedangkan kulit, lenjer serta pempek kecil lainnya diberi harga 3.500 rupiah. Tidak hanya pempek saja lho yang dijajakan di komplek Garden Cafe XXI Metropole ini, melainkan terdapat pula es teler, rujak buah, ayam panggang yang semuanya kelihatan enaaaaakkkkk banget! Pokoknya menggiurkan :9

Satria, ini kan udah sore, ngga kuliah?

Eh, biarin. Nada mau ke mana lagi?

Ke mana?

Mau pulang apa mau main lagi?

Main lagiiiii!!!

Hm, di Kineforum ada film apa ya?

Ngga tau, pokoknya jam 5.

Setibanya di komplek Taman Ismail Marzuki, saya dan satria langsung menuju Kineforum yang berada di belakang XXI TIM. Sambil berlalu, kami melihat ke arah Planetarium. Ya, saya ingin sekali pergi ke Planetarium yang katanya indah, saya ingin sekali menonton di Planetrium. Sayangnya, menurut website resmi Planetarium, tempat tersebut dibuka untuk umum hanya pada Hari Sabtu dan Minggu, sedangkan hari kerja hanya diperuntukan untuk rombongan. Ah, sayang sekali ya. Tapi, setelah beberapa lama menunggu di Kineforum dengan bosan, kami pun mencoba pergi ke Planetarium, siapa tahu dibuka untuk umum. Dan, taraaaammmm!!! Planetarium memang dibuka untuk umum di hari kerja pada pukul 16.30. Aaaaaa, senangnya 🙂

Saya sangat-sangat menikmati pertunjukan di Planetarium. Andai langit Jabodetabek seindah di Planetarium, mungkin saya akan melakukan stargazing setiap malam, bersama kamu (hihihi). Stargazing is one of the simplest and most romantic things to do, andai langit Jabodetabek indah :’)

Setelah seharian berjalan-jalan, tanggung dong kalau masih ada yang dilewatkan dari Cikini. Maka, kami pun memutuskan untuk mencari Roti Tan Ek Tjoan. Roti Tan Ek Tjoan merupakan roti yang telah ada sejak berpuluh-puluh taahun lamanya. Dulu, roti ini pertama kali membuka gerainya di Bogor, namun beberapa tahun setelahnya, toko roti tersebut pindah (atau membuka cabang) ke Cikini. Sejujurnya kami ngga tahu lokasi toko roti tersebut di mana, yang kami tahu hanya alamat yang kami dapat dari google. Dan, karena awalnya hanya berpatokan pada alamant, kami pun muter-muter ngga jelas karena nomor bangunan di sana kadang ngga berurut atau lompat-lompat. Ah bodoh ya, kami baru menggunakan aplikasi HERE setelah muter-muter ngga jelas. Eh tapi ngga apa-apa deh, kami jadi tahu lokasi Gado-gado Bonbin, tempat makan lagi hahahaha.

Intinya kami harus kembali lagi ke arah TIM karena sebelumnya kami salah arah. Di Toko Roti Tan Ek Tjoan, kami membeli roti untuk kami bawa pulang karena beberapa jam yang lalu kami baru memakan pempek. Di sana, satria membeli roti gambang yang menjadi roti khas Tan Ek Tjoan, sedangkan saya membeli roti isi moca dan cokelat.

Aduh maaf sekali ya fotonya jelek huhu. Tapi serius, roti ini tuh enak banget! Saya lupa berapa harga rotinya, tapi seingat saya berkisar antara 6.500 rupiah hingga 7.000 atau 7.500 rupiah. Standar kan? Tapi rasanya enak banget!!!! Kamu pernah mencoba roti bantet? Nah rasanya seperti itu, pokoknya ngga kaya roti-roti yang sekarang ngetren di mall-mall deh. Then, roti ini pun ngga pake pengawet. Ya walaupun bisa bikin diabetes karena manis banget, tapi seengganya ga nambah penyakit dengan pengawet kan? HIhi. Selain itu, rotinya pun lembut. Aaaaarrrgggh!!!! SAYA MAU LAGIII!!!! Kue gambangnya juga… ya ampun, enak deh, ngga seperti kue gambang yang biasanya ada di Indomaret. Kue gambangnya juga lembut dan aroma kayu manisnya terasa. I recommend this!

Setelah puas memilih roti, saya yang penyuka bubur ini pun ngerasa ngga afdhol kalau ngga nyoba Bubur Cikini yang terkenal itu. Akhirnya kami (lagi-lagi) mampir untuk membeli dua bungkus bubur. Dari hasil penelusuran saya, bubur d sana terkenal dengan telur setengah matangnya, maka saya pun membeli satu porsi bubur degan tambahan telur setengah matang untuk dibawa pulang. Tapi, sayang sekali, ternyata perjalanan pulang kami sangat lama karena sepertinya terjadi antrean kereta di beberapa stasiun. Huft, harapan untuk memakan bubur yang lezat di kosan akhirnya tidak tercapai. Memang sih buburnya masih sangat hangat karena plastik pembungkusnya yang berkualitas baik, tapi tetap saja rasanya menjadi tidak seperti yang dibayangkan. Memang ya, yang namanya bubur hanya enak kalau segera dimakan. Oh ya, bubur ini porsinya sangat besar sekali. Sebetulnya porsi bubur biasa saja, tapi jumlah potongan cakwenya itu lho, banyaaaakkk, berasa ngga abis-abis hihi. Jadi entah karena waktu memakannya yang terlalu lama atau karena jumlah cakwenya yang terlalu banyak, tapi saya tidak terlalu suka bubur ini. Mungkin suatu saat saya harus mencobanya lagi dan makan di tempat 🙂

Semoga suatu hari nanti kami bisa berjalan-jalan seru seperti ini lagi ya. Aamiin.

 


Makasih manis buat tulisannya 😀

Ya, semoga kita masih bisa jalan-jalan seru lagi, aamiin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s