Petualangan

Penelusuran Goa Cikenceng dan Goa Cidomba

Liburan telah tiba, divisi Caving Mapala UI kembali melakukan perjalanan telusur goa. Kali ini goa yang ditelusuri adalah Goa Cidomba dan Goa Cikenceng. Keduanya terletak di kawasan karst Tajur, Bogor. Berawal dari ajakan Pak Tarno, sapaan akrab dari Kurniadi, akhirnya terbentuklah tim yang terdiri dari saya, Zenit, Ayi, Benjo, Komar, dan Gus Firman. Semuanya adalah rekan saya di Mapala UI. Persiapan dimulai sejak jumat pagi, satu per satu peralatan kami keluarkan dari gudang untuk di-packing ke dalam carrier. Karena salah satu goa yang akan kami kunjungi merupakan goa vertikal, maka selain peralatan pribadi seperti warepack, helm, headlamp, dan sepatu bot, kami juga menyiapkan set alat SRT (Single Rope Technique), tali statis, carrabiner (cincin kait), webbing, serta beberapa peralatan lain yang digunakan untuk naik dan turun melalui tali. Tidak ketinggalan konsumsi pun juga kami siapkan. Setelah persiapan selesai dan semua anggota tim telah berkumpul, pada hari Sabtu sekitar jam satu malam, kami berangkat menuju Tajur dengan menggunakan sepeda motor. Rombongan tim harus berjalan beriringan karena lampu motor yang dikendarai Ayi mati. Di dalam perjalanan kami sempat mengisi bensin yang ternyata harganya baru saja naik, huh. Perjalanan menuju Tajur kami tempuh dalam waktu dua jam.

Setibanya di Tajur, kami bersilaturahmi sekaligus mengurus ijin kegiatan ke sekretariat KPA Linggih Alam yang merupakan kelompok pecinta alam yang berada di kawasan Tajur. Setelah perijinan selesai, kami menuju ke rumah Pak Eman untuk memarkir motor. Rumah Pak Eman yang kebetulan tidak terlalu jauh dari entry point beberapa goa di Tajur ini memang biasa dijadikan persinggahan dan tempat penitipan motor oleh kelompok-kelompok pencinta alam yang ingin mengeksplorasi goa-goa yang ada di Tajur. Motor telah terparkir dengan rapi di depan rumah Pak Eman, kami pun langsung berjalan menuju entry point Goa Cidomba. Setelah sepuluh menit berjalan melewati kebun warga, kami memutuskan untuk mendirikan basecamp di tempat yang menurut Benjo dan Zenit tidak jauh dari mulut Goa Cidomba. Sebelum beristirahat tim tidak lupa melakukan pembagian tugas untuk besok pagi. Tim tidur dibawah bentangan flysheet, sementara Komar asyik meringkuk di dalam hammock-nya.

Pukul setengah enam pagi kami bangun, sesuai dengan pembagian tugas semalam, Komar dan Ayi pergi untuk membeli sarapan dan air galon, Zenit dan Benjo yang sebelumnya sudah pernah menelusuri Goa Cidomba bertugas untuk mencari mulut goa, sementara sisanya termasuk saya bertugas untuk menyiapkan set alat SRT serta set alat untuk rigging. Dua puluh menit kemudian Komar dan Ayi kembali dengan membawa air galon serta nasi uduk untuk sarapan sementara Zenit dan Benjo belum juga kembali. Sekitar sepuluh menit kemudian barulah Zenit dan Benjo datang sambil mengabarkan bahwa ternyata basecamp yang kami dirikan saat ini masih jauh dari mulut goa. Dengan berat hati, setelah semua menyelesaikan sarapannya, kami membongkar basecamp dan kembali mem-packing peralatan untuk kemudian pindah menuju tempat yang lebih dekat dengan mulut Goa Cidomba. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke lokasi mulut goa tersebut. Kami langsung mendirikan basecamp yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari mulut goa.

Setelah mendirikan basecamp, briefing dilakukan sebelum melakukan penelusuran. Berdasarkan briefing, ditentukan bahwa penelusuran akan dibagi menjadi dua trip karena set alat SRT yang kami bawa hanya lima sementara anggota tim berjumlah tujuh orang. Anggota trip pertama bertugas untuk melakukan rigging (membuat tambatan untuk tali), sementara trip kedua kebagian melakukan cleaning (melepas tambatan). Pukul sepuluh pagi, saya, Tarno, Gus, dan Komar yang kebagian trip pertama, memulai penelusuran goa. Goa Cidomba ini merupakan goa vertikal yang memiliki tiga pitch dengan masing-masing pitch memiliki kedalaman yang bervariasi antara 10-25 meter. Tarno berperan sebagai rigging man sementara saya berperan sebagai assisten rigging pada pemasangan anchor (tambatan) di mulut goa menuju pitch pertama dan pitch pertama menuju pitch kedua. Pada pemasangan anchor pada pitch kedua menuju pitch ketiga yang menjadi rigging man adalah Komar sementara Tarno berperan sebagai assisten rigging.

Penelusuran Goa Cidomba dirasa sangat seru, bagaimana tidak, persis sebelum turun dari pitch pertama ke pitch kedua saja kami semua harus meliak-liuk sambil menundukan badan untuk melewati celah sempit di antara column (semacam pilar pada goa). Tidak hanya itu saja, di-pitch kedua masih ada empat celah yang tidak kalah sempit yang harus dilewati dengan cara yang bervariasi, mulai dari merangkak, berjalan menyamping, bahkan sampai harus melepaskan helm. Untungnya kami semua memiliki badan yang tidak terlalu besar sehingga tidak ada masalah yang terjadi saat melewati celah-celah sempit tersebut. Pada saat turun dari pitch kedua ke pitch ketiga maupun sebaliknya pada saat naik juga tidak kalah seru karena lintasan yang kami buat berada di samping aliran air sehingga cipratan air pun membasahi wajah kami saat menuruni maupun menaiki lintasan. Penelusuran Goa Cidomba ternyata tidak berakhir di pitch ketiga saja karena ternyata di salah satu pojok pitch ketiga yang berupa chamber (ruangan besar di dalam goa) terdapat sebuah lorong horizontal yang cukup panjang dan jika ditelusuri akan berakhir di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh kelelawar dan bau guano yang cukup menyengat.

Saya dan anggota trip pertama lainnya kembali ke basecamp sekitar pukul lima sore dan langsung disuguhi oleh minuman hangat serta mie instan yang telah disediakan oleh Ayi, Zenit, dan Benjo. Namun ketika Komar ingin memasak mie instan lagi ternyata gas yang kami bawa habis dan setelah dicari-cari gas cadangan yang kami telah siapkan sebelumnya tidak ada karena tertinggal di sekret. Terpaksa Komar pun harus membuat perapian dan mengorbankan sebuah nesting menjadi hitam legam karena harus dipanggang di atas perapian. Sekitar pukul tujuh malam penelusuran trip kedua dimulai. Saya kembali harus ikut masuk goa untuk menemani Benjo, Ayi, dan Zenit, sementara Tarno menunggu di basecamp sendirian karena Komar dan Gus Firman harus kembali ke Depok lebih dulu. Sesuai dengan tugas yang telah ditentukan, anggota tim di trip kedua ini selain menelusuri goa juga bertugas untuk melakukan cleaning. Tugas ini tidak kalah beratnya dibanding melakukan rigging karena kami harus mengangkut peralatan dan tali yang dijadikan anchor kembali ke atas. Peralatan ini diangkut dengan menggunakan sistem Z-rig maupun M-rig yang membuat beban yang diangkat terasa lebih ringan. Pada pukul setengah empat pagi keesokan harinya, semua anggota tim trip kedua kembali ke basecamp. Sebelum tidur kami sempat menikmati keindahan bulan yang pada saat itu bersinar sangat terang dan membentuk lingkaran penuh. Sungguh sebuah pemandangan yang cantik.

Tidak terasa perjalanan telusur goa kali ini sudah mencapai hari terakhir (Minggu, 23 Juni 2013). Setelah menyantap roti dan snack yang menjadi menu sarapan, kami langsung membereskan peralatan yang telah digunakan untuk di-packing kembali. Tengah hari, kami bergegas menuju rumah Pak Eman untuk mengambil motor. Goa Cikenceng yang menjadi target eksplorasi selanjutnya berada di wilayah yang terpisah dengan Goa Cidomba sehingga kami harus menggunakan motor untuk menuju kesana. Awalnya kami berencana menaruh motor dan barang-barang di sekretariat KPA Linggih Alam, namun karena sekretariat tersebut tutup kami akhirnya menitipkan motor dan barang-barang di salah satu warung pinggir jalan yang tidak jauh dari entry point Goa Cikenceng. Goa Cikenceng merupakan goa horizontal sehingga untuk menelusurinya kami tidak perlu menggunakan set alat SRT. Penelusuran Goa Cikenceng dilakukan hanya satu trip karena jumlah orang yang tersisa berjumlah lima orang, sesuai dengan jumlah warepack, sepatu bot, dan helm yang ada.

Goa Cikenceng menyajikan keseruan yang tak kalah dibandingkan dengan Goa Cidomba. Untuk masuk ke dalam goa, kami harus melalui celah bebatuan yang sempit dan sedikit tersamarkan oleh rerumputan. Melewati aliran air, menaiki air terjun dengan ketinggian sekitar tiga meter, merayap di kubangan lumpur, serta menyelami lorong sepanjang tiga meter yang dipenuhi air menjadi santapan kami saat menelusuri goa ini. Dua jam kami habiskan untuk menelusuri goa yang memiliki sepasang pintu masuk dan pintu keluar ini. Rasa senang dan lega pun kami rasakan saat keluar dari mulut goa. Penelusuran goa kali ini diakhiri dengan acara mandi di sungai yang mengalir tidak jauh dari jalan raya sambil membersihkan warepack  yang kotor oleh lumpur. Badan yang terasa lelah pun terasa lebih segar setelah berendam di sungai. Sekitar pukul tujuh malam kami kembali menuju Depok. Sesampainya di sekretariat, meskipun badan masih terasa lelah dan mata sudah mengantuk, kami langsung membongkar peralatan untuk mencucinya. Selalu mencuci peralatan setelah digunakan merupakan hal yang sangat penting karena dengan selalu menjaga peralatan disimpan dalam kondisi bersih membuat peralatan menjadi lebih awet dan tidak cepat rusak. Nah, peralatan yang baik dan terawat ini merupakan modal untuk bisa melakukan penelusuran goa-goa lain yang lebih seru lagi! Setuju?

Penelusuran Goa Cikenceng dan Goa Cidomba, 22 -23 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s